Elegi Sebuah Reuni

BlogGuoblog. Si mata biru Lorna akhirnya menyadari batasan kemampuannya. Apa yang nampak di hadapan ternyata tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Cinta memang tidak seharusnya memiliki. Tetapi dia memiliki cinta itu. Dia tidak bisa berpura-pura dengan dirinya sendiri. Kenapa harus menunggu apa yang dicintainya mengatakan cinta kepadanya? Tidak cukupkah baginya dengan mendapatkan perhatian dan kasih sayangnya. Tidakkah tuntutan itu selama ini terasa berlebihan? Namun dirinya telah mengambil sikap itu. Karena apabila tidak. Dia tetap akan terpuruk dalam kebimbangannya. Namun ternyata sikap yang diambilnya, membangun sebuah pusaran yang pada akhirnya menghisapnya sendiri. Kini dirinya pun harus berusaha keluar dari lingkaran pusaran itu. Dia harus mencari pegangan agar bisa terbebas dari beban yang selama bertahun-tahun telah menghimpitnya. Hingga datang secercah harapan akan kesempatan untuk memperbaiki keliruan selama ini. Yaitu saat dirinya menerima undangan reuni sekolah.

--------------------------------------------------------------------------------

Lorna menepiskan helaian rambut yang menggelitik bukit hidungnya. Di sini di tempatnya berdiri. Di bawah rimbunnya kanopi daun pohon trembesi. Pohon yang masih sama lima tahun yang lalu ditinggalkan. Pohon yang berada dalam barisan pohon-pohon trembesi tua. Yang tumbuh berderet sepanjang tepian jalan Tugu. Melingkari sebuah taman bundar di depan balai kota Malang. Yang ditengahnya terdapat sebuah kolam air dengan sebuah tugu batu yang berdiri pongah yang dulu konon diresmikan oleh Ir. Soekarno, sang proklamator Indonesia. Tugu itu adalah tugu yang sama seperti lima tahun yang lalu yang ditinggalkannya.
Angin yang menerpa wajahnya. Angin yang mengibar-ibarkan rambutnya. Adalah angin yang terasa masih sama seperti lima yang tahun lalu. Yang kerap menemaninya bila dirinya berada di tempat itu. Yang kerap menyapanya ramah bila dirinya berdiri di tempat itu. Dan seperti di pagi ini kembali menyapa ramah:
"Selamat datang kembali, Lorna yang cantik" sembari membawakan aromanya, aroma khas daun trembesi. Yang sergapan aromanya tiba-tiba membangkitkan kembali belitan kenangan yang selama ini teramat sulit untuk dilepaskannya.

Belitan kenangan yang selama ini mengusiknya adalah belitan kenangan yang tak muda ditepiskan bila datang melintas dalam bayangan ingatannya. Lorna tak tahu bagaimana caranya untuk melepaskan belitan itu? Teramat sulit. Sungguh sulit sekali. Ada yang dibutuhkannya pada saat ini, yakni kehadiran kawan-kawan lamanya. Para sahabat-sahabatnya. Dimanakah gerangan kawan-kawanku? Kenapa lama sekali kamu Rahma? Dimanakah kamu Grace? Dimanakah kalian semua? Cepatlah kalian datang! Jemputlah aku! Berdiri ditempat itu seperti sejuta tahun lamanya menunggu. Lorna berharap Rahma segera muncul agar bisa membantu melepaskannya dari belitan itu. Kemanakah Dini? Dimanakah Ndari? Siapa saja yang duluan datang. Aku butuh kalian. Lorna hanya ingin segera bisa keluar dari sergapan rasa sepi yang tiba-tiba datang mendera.
"Lorna!"
Lorna tersentak dari lamunannya. Dan segera berpaling ke arah dari mana asal suara itu datang. Belum selesai berpaling. Tiba-tiba saja Rahma sudah berada di samping. Langsung memeluknya dan menciumi pipi Lorna silih berganti penuh kerinduan. Bola matanya basah berkaca-kaca lantaran dilanda perasaan bahagia dan keharuan
"Aduh, kenapa menunggu di sini gadis cantik? Muaahh, kamu makin biuuuutiful!" ujar Rahma seraya mencium pipinya Lorna dengan gemas.
Lorna dan Rahma lantas berpelukan beberapa saat. Meresapinya dalam diam penuh kehangatan. Saling menatap seperti tak ingin melepaskannya. Mata Lorna juga berkaca-kaca. Bola matanya jernih berwarna biru seperti birunya lautan Teduh.
"Sudah lama nunggu di sini, sayang? Kan sudah kubilang janjian ketemu di tempat yang dulu"
"Entahlah kenapa aku pingin berada di sini. Apa rencana kita?"
Rahma mengedikkan bahu.
"Nggak tahu." jawab Rahma."Grace dan Dini sudah menunggu di sana. Belum ada kesepakatan, soalnya Ndari belum nyampai. Wuaduh, lima tahun lho, Na."
"Lima tahun apanya?" tanya Lorna tak mengerti.
"Ya berpisah. Sadis buaanget kamu ini"
"Sorry..."
Rahma mendekap hangat pipi Lorna seraya menatap lembut kembali ke bola mata itu lekat-lekat. Bola mata itu masih basah. Bola mata yang disukainya. Lalu Rahma bertanya lirih: "Sudah ketemu dia?"
Lorna terkesiap. Lalu mengerenyitkan kening. 'Dia' yang dimaksudkan Rahma tentu pemilik wajah yang selama ini mengganggunya. Yang beberapa saat lalu sempat muncul dan membuatnya gelisah tidak karuan. Lorna tidak menjawab karena pertanyaan Rahma terasa aneh baginya. Dan Rahma tidak bertanya mendesak. Tapi Rahma yakin tentu ada alasannya kenapa Lorna berdiri di tempat ini.
"Ndari sering ketemu" kata Rahma cepat. Dia tahu pertanyaan itu pasti mengganggunya.
"Oh, ya?"
Dada Lorna terasa berdegup kencang.
Rahma manggut.
"Kita bahas nanti." selanya kemudian, "Yuk kesana. Mungkin mereka sudah bergabung. Kan Ndari anggota panitia Reuni"
Degub jantung Lorna yang sempat muncul kembali reda setelah Rahma mengalihkan perhatiannya.
Rahma lalu menggandeng Lorna untuk memasuki mobilnya yang ditepikan di pinggir jalan setelah belokan dari arah jalan Kahuripan. Sebenarnya letak sekolah mereka tidak lebih dari dua ratus meter jauhnya dari tempat mereka berdiri.
Dalam mobil mereka melanjutkan perbincangan.

"Siapa yang mengantarmu?" tanya Rahma.
"Aku naik becak." jawab Lorna pendek.
Rahma tak menimpali. Dahulu mereka sering naik becak bareng. Barangkali Lorna sedang ingin bernostalgia naik becak.
Sesaat mobil mereka sudah memasuki gerbang sekolah.

"Kita parkir di..."
"Kapling kita..." Lorna menyela seraya tertawa kecil.
Rahma memandang Lorna. Keduanya bertatapan sejenak. Lalu tertawa bareng.
Kapling parkir itu berada di dekat sebuah lapangan bola voli. Tidak jauh dari situ tumbuh sebuah pohon bougenvil. Dalam hati mereka berharap pohon itu masih tumbuh ditempatnya. Keduanya lantas bernyanyi. Menyanyikan lagu yang pernah dipopulerkan oleh Broery Marantika. Lagu bunga bougenvil.

"Bougenvile merah ungu yang pernah kau genggam dalam tanganmu. Bougenvil lambang kasih yang pernah kau serahkan pada diriku....kini..."
Nyanyian mereka terhenti seketika. Karena ternyata pohon itu sudah tidak berada ditempatnya. Di tempat itu kini tidak ditumbuhi pohon lagi. Nampak lapang. Nampak gersang. Padahal dulu rimbun, ada beberapa pohon tumbuh di tempat itu. Saat jam istirahat mereka suka sekali berdiri di bawahnya.
"Lho, kemana bogenvilnya?" tanya Rahma.
Lorna tak menimpali pertanyaan Rahma. Tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat. Memandang hampa ke tempat dimana sebuah pohon bougenvil pernah tumbuh. Terbersit dalam raut wajahnya perasaan kecewa yang mendalam. Tiba-tiba melintas dalam ingatannya saat dirinya menggenggam bunga-bunga bougenvil berwarna putih yang berjatuhan di bawah kakinya. Saat itu dirinya berada di bawah pohon bougenvil. Bunga bougenvil dalam genggamannya adalah bunga yang dititipkan seseorang lelaki yang ketika itu tengah bermain bola voli. Kejadiannya manakala lelaki itu mengejar bola yang menggelinding dan berhenti dekat kakinya. Lorna membantu menangkapnya lalu memberikannya kembali kepadanya. Pada saat itu ada beberapa bunga bougenvil putih berserakan dekat kaki Lorna. Dan lelaki itu memunguti kemudian menitipkan kepadanya setelah mendapatkan uluran bolanya kembali dari tangan Lorna. Masih terasa kehangatannya saat telapak tangan itu menggenggam punggung tangannya. Masih terngiang pula dalam telinganya akan ucapannya.
"Titip ya. Jaga bunga ini agar tetap putih bersih. Jangan biarkan kena debu ya. Aku mau meneruskan main dulu"
Namun oleh lelaki itu, bunga itu ternyata tidak pernah dimintanya kembali. Entahlah. Apa alasannya bunga itu tidak diambil. Apa lantaran bunga itu kemudian berubah kering seperti kertas. Ataukah dia telah lupa? Entahlah. Seingatnya, bunga itu tak pernah juga dibuangnya. Seingatnya bunga itu selalu dijaganya. Dan menjauhkannya dari debu seperti yang dipesankan pemiliknya. Hingga kemudian bunga bougenvil putih itu berubah menjadi bunga-bunga kertas. Tapi kemudian dia juga tidak ingat lagi kemanakah gerangan bunga yang dititipkan kepadanya itu disimpan? Namun yang pasti dia tak pernah membuangnya.
"Hai!" Tiba-tiba Rahma menegur.
Lorna tersentak dari lamunannya.